Model Pembelajaran Humanistik


 Model Pembelajaran Humanistik

           Model pembelajaran humanistik memandang siswa sebagai subjek yang bebas untuk menentukan arah hidupnya. Siswa diarahkan untuk dapat bertanggungjawab penuh atas hidupnya sendiri dan juga atas hidup orang lain. Beberapa pendekatan yang layak digunakan dalam metode ini  adalah pendekatan dialogis, reflektif, dan ekspresif.
a.       Pendekatan dialogis mengajak siswa untuk berpikir bersama secara kritis dan kreatif. Guru tidak bertindak sebagai guru yang hanya memberikan asupan materi yang dibutuhkan siswa secara keseluruhan, namun guru hanya berperan sebagai fasilitator dan partner dialog.
b.      Pendekatan reflektif mengajak siswa untuk berdialog dengan dirinya sendiri, artinya siswa ini dituntut untuk berkreativitas sendiri dalam kegiatan belajar yang dilakukannya tentunya dengan arahan dari guru.
c.       Pendekatan ekspresif mengajak siswa untuk mengekspresikan diri dengan segala potensinya (realisasi dan aktulisasi diri). Dengan demikian guru tidak mengambil alih tanggung jawab, melainkan sekedar membantu, mendampingi dan mengarahkan siswa dalam proses perkambangan diri, penentuan sikap dan pemilahan nilai-nilai yang akan diperjuangkan.

        Pendidikan humanistik menekankan bahwa pendidikan pertama-tama dan yang utama adalah bagaimana menjalin komunikasi dan relasi personal antara pribadi-pribadi dan antar pribadi dan kelompok di dalam komunitas sekolah. Mendidik tidak sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, melatih keterampilan verbal kepada para siswa, namun merupakan bantuan agar peserta didik dapat menumbuh kembangkan dirinya secaraoptimal sesuai dengan esensi pendidikan sendiri. Mendidik yang efektif pada dasarnya merupakan kemampun seseorang menghadirkan diri sedemikian sehingga pendidik memiliki relasi bermakna pendidikan dengan para peserta didik sehingga mereka mampu menumbuhkembangkan dirinya secara optimal menjadi pribadi dewasa dan matang. Maksudnya adalah pengarahan kepada siswa bahwa mereka memang membutuhkan pendidikan dan terus membangun karakter siswa. Guru membantu peserta didik untuk menemukan, mengembangkan dan mencoba mempraktikkan kemampuan-kemampuan yang mereka miliki agar mereka dapat lebih leluasa mengembangkan potensi yang dimilikinya. Di sini sikap kita sebagai seorang guru sudah selayaknya menghormati, menghargai dan menerima siswa sebagaimana adanya. Komunikasi dan relasi yang efektif sangat diperlukan dalam model pendidikan humanistik ini, sebab hanya dalam suasana relasi dan komunikasi yang efektif, siswa akan dapat mengeksplorasi dirinya, mengembangkan dirinya, dan kemudian memfungsikan dirinya di dalam masyarakat secara optimal karena itulah indikator penting yang harus dicapai karena merupakan tujuan sejati dari pendidikan. Pada realitanya memang masyarakat membutuhkan pribadi-pribadi yang handal dalam bidang akademis, keterampilan atau keahlian dan sekaligus memiliki watak atau keutamaan yang luhur. Singkatnya pribadi yang cerdas, berkeahlian, namun tetap humanis.



Berikut ini dijelaskan secara ringkas beberapa model pembelajaran humanistik :
1.      Humanizing of the classroom, pendidikan model ini bertumpu pada tiga hal, yakni menyadari diri sebagai suatu proses pertumbuhan yang sedang dan akan terus berubah, mengenali konsep dan identitas diri, dan menyatupadukan kesadaran hati dan pikiran.
2.      Active learning, menjelaskan bahwa belajar membutuhkan keterlibatan mental dan tindakan sekaligus. Pada saat kegiatan belajar itu aktif, siswa melakukan sebagian besar pekerjaan belajar. Mereka mempelajari gagasan-gagasan, memecahkan berbagai masalah dan menerapkan apa yang mereka pelajari. Dalam active learning, cara belajar dengan mendengarkan saja akan cepat lupa, dengan cara mendengarkan dan melihat akan ingat sedikit, dengan cara mendengarkan, melihat, dan mendiskusikan dengan siswa lain akan paham, dengan cara mendengar, melihat, diskusi, dan melakukan akan memperoleh pengetahuan dan ketrampilan, dan cara untuk menguasai pelajaran yang terbagus adalah dengan mengajarkan. Belajar aktif cenderung bersifat, menyenangkan, menarik, dan menuntut siswa untuk cepat.
3.      Quantum learning, merupakan cara pengubahan bermacam-macam interaksi, hubungan dan inspirasi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar. Dalam prakteknya, quantum learning mengasumsikan bahwa jika siswa mampu menggunakan potensi nalar dan emosinya secarabaik, maka mereka akan mampu membuat loncatan prestasi yang tidak bisa terduga sebelumnya dengan hasil mendapatkan prestasi bagus. Salah satu konsep dasar dari metode ini adalah belajar itu harus mengasyikkan dan berlangsung dalam suasana gembira, sehingga jembatan yang ada di otak akan mampu menyerap informasi baru dan dapat terekam dengan baik.
4.      The accelerated learning, merupakan pembelajaran yang berlangsung secara cepat, menyenangkan, dan memuaskan. Dalam model ini, guru diharapkan mampu mengelola kelas menggunakan pendekatan Somatic, Auditory, Visual, dan Intellectual (SAVI). Somatic dimaksudkan sebagai learning by moving and doing (belajar dengan bergerak dan berbuat). Auditory adalalah learning by talking and hearing (belajar dengan berbicara dan mendengarkan). Visual diartikan learning by observing and picturing (belajar dengan mengamati dan mengambarkan). Intellectual maksudnya adalah learning by problem solving and reflecting (belajar dengan pemecahan masalah dan melakukan refleksi).


Guru Sebagai Pendidik dan Manajer Pendidik

GURU SEBAGAI PENDIDIK DAN MANAJER PENDIDIK

       Guru merupakan orang pertama yang mencerdaskan manusia, orang yang memberi bekal pengetahuan, pengalaman, dan menanamkan nilai-nilai, budaya, dan agama terhadap anak didik, dalam proses pendidikan, guru memegang peranan penting setelah orangtua dan keluarga di rumah. Di lembaga pendidikan guru menjadi orang pertama, bertugas membimbing, mengajar, dan melatih anak didik mencapai kedewasaan. Setelah proses pendidikan sekolah selesai, diharapkan anak didik mampu hidup dan mengembangkan dirinya di tengah masyarakat dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman yang sudah melekat di dalam dirinya.

           Oleh karena itu, guru merupakan salah satu unsur di bidang kependidikan harus berperan serta secara aktif dan menetapkan kedudukannya sebagai tenaga profesional, sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang. Dalam arti khusus dapat dikatakan kedewasaan dan kematangan tertentu. Dalam rangka ini guru tidak semata-mata sebagai “pengajar” yang melakukan transfer of  knowledge, tetapi juga sebagai (pendidik) yang melakukan transfer of values dan sekaligus sebagai “pembimbing” yang memberikan pengarahan dan menuntut siswa dalam belajar.

            Guru adalah seorang yang mempunyai gagasan yang harus diwujudkan untuk kepentingan anak didik, sehingga dapat menunjang hubungan yang sebaik-baiknya dengan anak didik, mengembangkan dan menerapkan keutamaan yang menyangkut agama, kebudayaan, dan keilmuan (Nurdin, 2003:7).
           Guru adalah seorang pendidik, pembimbing, pelatih, dan pemimpin yang dapat menciptakan iklim belajar menarik, aman, nyaman dan kondusif di kelas, keberadaannya di tengah-tengah siswa dapat mencairkan suasana kebekuan, kekakuan, dan kejenuhan belajar yang terasa berat di terima oleh siswa (Yamin, 2006:110). Guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar-mengajar, yang ikut berperan dalam usaha pembentukkan sumber daya manusia yang potensial di bidang pembangunan.

            Guru adalah guru (pendidik) dalam lembaga pendidikan formal (sekolah) yang tentunya secara langsung dan tegas menerima kepercayaan dari masyarakat untuk memangku jabatan sebagai guru dan tanggungjawab pendidik dengan memenuhi syarat-syarat utama menjadi guru dalam rangka mengembangkan potensi anak didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab.
Namun demikian, seperti yang telah dijelaskan di muka, guru berperan penting dalam proses pembelajaran. Hal ini dapat dikemukakan Sanjaya (2008:21), yaitu: guru sebagai sumber belajar, guru sebagai fasilitator, guru sebagai pengelola, guru sebagai demonstrator, guru sebagai pembimbing, guru sebagai motivator, dan guru sebagai evaluator. Ketujuh peranan tersebut akan diuraikan sebagai berikut:
a.      Guru sebagai sumber belajar
            Peran sebagai sumber belajar berkaitan erat dengan penguasaan materi pelajaran. Untuk itu dapat menilai baik atau tidaknya seorang guru hanya dari penguasaan materi pelajaran. Dikatakan guru baik manakala “ia” dapat menguasai materi pelajaran dengan baik, sehingga “ia” benar-benar berperan sebagai sumber belajar bagi anak didiknya dalam proses pembelajaran.

b.      Guru sebagai fasilitator
            Sebagai fasilitator, guru berperan dalam memberikan pelayanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran.

c.       Guru sebagai pengelola
            Sebagai pengelola pembelajaran (learning manajer), guru berperan dalam menciptakan iklim belajar yang memungkinkan siswa dapat belajar secara nyaman.

d.      Guru sebagai demonstrator
            Peran guru sebagai demonstrator adalah peran untuk mempertunjukkan kepada siswa segala sesuatu yang dapat membuat siswa lebih mengerti dan memahami setiap pesan yang disampaikan.

e.       Guru sebagai pembimbing
Maksudnya adalah guru membimbing siswa agar dapat menemukan berbagai potensi yang dimilikinya sebagai bekal hidup mereka, sehingga dengan ketercapaiannya itu siswa dapat tumbuh dan berkembang sebagai manusia ideal yang menjadi harapan setiap orangtua dan masyarakat.


f.        Guru sebagai motivator
            Dalam proses pembelajaran, motivasi merupakan salah satu aspek dinamis yang sangat penting. Sering terjadi siswa yang kurang berprestasi bukan disebabkan oleh kemampuannya yang kurang tetapi dikarenakan tidak adanya motivasi untuk belajar sehingga ia tidak berusaha untuk mengerahkan segala kemampuannya.

g.      Guru sebagai evaluator
           Guru berperan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang keberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan.
Dari uraian tersebut, diperoleh gambaran bahwa peranan guru akan senantiasa menggambarkan pola tingkah laku yang diharapkan dalam berbagai interaksinya, baik dengan siswa (yang terutama) sesama guru, maupun staf yang lain. Dari berbagai sentral bagi peranannya. Sebab baik disadari atau tidak bahwa sebagian dari waktu dan perhatian guru ternyata banyak dicurahkan untuk menggarap proses pembelajaran dan berinteraksi dengan siswanya. Apalagi hubungan guru dengan siswa atau anak di dalam proses pembelajaran merupakan faktor yang sangat menentukan. Sehingga bagaimanapun baiknya  mata pelajaran yang diberikan, serta sempurnanya metode yang digunakan, namun jika hubungan guru-siswa tidak harmonis di dalam proses belajar-mengajar, maka hasilnya tidak akan maksimal.

              Pada pengertian lain, guru adalah kata yang biasa dipergunakan untuk menyebut satu profesi seseorang yang pekerjaannya mengajar. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata guru diartikan yaitu orang yang pekerjaannya, mata pencahariannya, profesinya mengajar (Husain, 2004).
              Sehubungan dengan profesi, Jervis menjelaskan bahwa: 1) profesi adalah suatu pekerjaan yang didasarkan pada latihan dan studi intelektual yang terspesialisasi, 2) profesi adalah jabatan atau jasa yang dilandasi oleh pengetahuan teoritis atau pengetahuan intelektual yang tinggi, dan 3) kelompok profesional adalah mereka yang menguasai pengetahuan keahlian yang dipergunakan untuk tugas spesialis.

            Namun dalam arti luas, pengertian guru tentu tidak hanya sebuah profesi. Ada makna lain yang lebih dalam dari sekedar profesi. Siapapun yang tidak berprofesi atau bermata pencaharian sebagai guru pegawai, bisa saja disebut atau diakui sebagai guru, selama dalam dirinya terdapat sifat-sifat seorang guru, yaitu sifat teladan dan panutan bagi semua orang.
Guru yaitu pribadi dewasa yang dapat mempersiapkan diri secara khusus melalui lembaga pendidikan guru, agar dengan keahlian yang dimilikinya mampu mengajar sekaligus mendidik siswanya untuk menjadi warga negara yang baik (susila), berilmu, produktif, sosial, sehat dan mampu berperan aktif dalam peningkatan sumber daya manusia atau investasi kemanusiaan.


Berbagai Perhitungan Varians

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Berbagai Perhitungan Varians

            Varians bersifat hierarkis. Varians dimulai dengan kinerja unit bisnis keseluruhan, yang dibagi menjadi varians pendapatan dan varians beban. Varians pendapatan dibagi lebih lanjut menjadi varians volume dan varians harga untuk unit bisnis keseluruhan dan untuk setiap pusat tanggung jawab pemasaran dalam unit tersebut. Varians tersebut dapat dibagi lebih lanjut berdasarkan area dan distrik penjualan. Varians beban dapat dibagi menjadi beban beban produksi dan beban lainnya. Beban produksi dapat dapat dibagi lebih lanjut berdasarkan pabrik dan departemen dalam suatu pabrik. Oleh karena itu, perusahaan bisa mengidentifikasi setiap varians dengan manajer individual yang bertanggung jawab untuk itu. Analisis ini adalah alat yang sangat ampuh. Tanpanya, kemanjuran anggaran laba akan sangat terbatas.
Kerangka analisis yang digunakan dalam analisis varians meliputi ide berikut :
a.       Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kunci yang mempengaruhi laba
b.      Merinci varians laba keseluruhan berdasarkan faktor  penyebab kunci tersebut
c.       Fokus pada dampak laba dari variasi dalam setiap faktor penyebab
d.      Mencoba untuk menghitung dampak yang spesifik dan dapat dipisahkan dari setiap faktor penyebab dengan cara memvariasikan satu faktor saja sementara faktor-faktor lainnya dianggap konstan
·         Menambahkan kompleksitas secara bertahap, lapis per lapis, mulai dari tingkat “akal sehat” yang paling mendasar (“mengupas bawang”)
·         Menghentikan proses tersebut ketika kompleksitas  yang ditambahkan di tingkat yang baru dibuat tidak dijustifikasi dengan tambahan wawasan mengenai faktor-faktor penyebab yang mendasari varians laba keseluruhan.

1.      Varians pendapatan
            Dalam bagian ini, djelaskan mengenai bagaimana menghitung varians harga, volume dan bauran penjualan. Penghitungan tersebut dibuat untuk setiap lini produk, dan hasil dari lini produk kemudian diagresikan untuk menghitung total varians. Varians yang positif adalah menguntungkan, karena hal tersebut mengindikasikan bahwa laba aktual melebihi laba yang dianggarkan, dan varians yang negatif adalah tidak menguntungkan.

a.       Varians Harga Penjualan
            Varians harga penjualan dihitung dengan mengalikan selisih antara harga aktual dan harga standar dengan volume aktual.
b.      Varians Bauran dan Volume
            Seringkali varians bauran dan varians volume tidak dapat dipisahkan. Persamaan untuk gabungan dari varians bauran dan volume adalah:
Varians bauran dan volume = (volume aktual-volume anggaran) x kontribusi per unit yang dianggarkan.
            Varians volume diakibatkan dari menjual lebih banyak unit daripada yang dianggarkan. Sedangkan varians bauran diakibatkan dari menjual proporsi produk yang berbeda dari yang diasumsikan dalam anggaran. karena setiap produk memperoleh kontribusi perunit yang berbeda, maka penjualan proporsi produk yang berbeda dari yang dianggarkan akan menghasilkan suatu varians.
c.       Varians Bauran
            Varians bauran dari masing-masing produk diperoleh dari persamaan :
Varians bauran = [(total volume penjualan aktual x anggaran proporsi) - (volume penjualan aktual)] x kontribusi perunit yang dianggaran
d.      varians volume
            Varians volume dapat dihitung dengan cara mengurangkan varians bauran dari gabungan antara varians bauran dan varians volume.
Varians volume = [(total volume penjualan aktual) x (persentase anggaran) - [(anggaran penjualan) x kontribusi anggaran per unit)]

e.       Penetrasi Pasar dan Volume Industri
            Salah satu perluasan dari analisis laba adalah untuk memisahkan varians bauran dan volume menjadi jumlah yang disebabkan oleh perbedaan dalam volume industri. Prinsipnya adalah bahwa manajer unit bisnis bertanggung jawab atas pangsa pasar, tetapi mereka tidak bertanggung jawab atas volume industri Karena hal tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi. Persamaan berikut ini digunakan untuk memisahkan dampak penetrasi pasar dan volume industri untuk varians bauran dan volume :
Varians pangsa pasar = [(penjualan aktual) - (volume industri)] x penetrasi pasar yang dianggarkan x kontribusi anggaran per unit
Varians pangsa pasar dihitung untuk setiap produk secara terpisah, dan  varians  total adalah jumlah perhitungan secara aljabar. Varians volume industri bisa dihitung dengan cara sebagai berikut :
Varians volume industri = (volume industri aktual) – (volume industri dianggarkan) x penetrasi pasar dianggarkan x kontribusi per unit dianggarkan

2.      Varians beban
a.       Biaya Tetap
            Varians antara biaya tetap aktual dengan yang dianggarkan didapat dari pengurangan, karena biaya-biaya ini tidak dipengaruhi baik oleh volume penjualan maupun volume produksi.
b.      Biaya Variabel
            Adalah biaya yang bervariasi secara langsung dan proporsional dengan volume. Biaya produksi yang dianggarkan harus disesuaikan dengan volume produksi aktual. Volume yang digunakan untuk menyesuaikan beban produksi variable yang dianggarkan adalah volume produksi, bukan volume penjualan, yang digunakan dalam menentukan varians pendapatan.

3.      Rangkuman Varians
            Ada beberapa cara dengan mana varians dapat dirangkum dalam suatu laporan bagi manajemen. Ini digunakan karena jumlahnya dapat ditelusuri dengan mudah. Bentuk penyajian lainnya adalah dengan menunjukkan jumlah aktual beserta dengan variansnya. Hal ini memberikan indikasi mengenai relatif pentingnya setiap varians sebagai bagian dari total pos pendapatan atau beban yang terkait.

B.     Faktor-Faktor Yang Dipertimbangkan Dalam Analisis Varians

             Pemilihan metode analisis data menggunakan pendekatan kualitatif atau kuantitatif. Dalam pendekatan kuantitatif persyaratan pertama yang harus terpenuhi adalah alat uji statistik yang akan digunakan harus sesuai. Pertimbangan utama dalam memilih alat uji statistic ditentukan oleh pertanyaan untuk apa penelitian tersebut dilakukan dan ditentukan oleh tingkat/skala, distribusi dan penyebaran data. Pertimbangan kedua dalam memilih alat uji statistik ini adalah luasnya pengetahuan statistik yang dimiliki serta ketersediaan sumber-sumber dalam hubungannya dengan perhitungan dan penafsiran data.
              Metode penelitian dengan pendekatan kualitatif berbeda dengan pendekatan kuantitatif, dalam pendekatan kualitatif perhatian dipusatkan kepada prinsip umum yang mendasari perwujudan dan satuan gejala yang ada dalam kehidupan manusia atau pola yang ada. Analisis yang dilakukan adalah gejala sosial dan budaya dengan menggunakan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan untuk memperoleh pola yang berlaku, dan pola tersebut dianalisis dengan teori yang objektif.

             Penelitian kualitatif mampu mengungkapkan gejala yang ada di masyarakat secara sistematis. Oleh karena itu urutan atau sistimatika yang ada dalam penelitian memberikan urutan serta pola berfikir secara sistematis dan komplek. Penelitian dengan pendekatan kualitatif ini mampu mengungkap gejala yang ada di masyarakat secara sistematis secara mampu mengungkapkan kejadian yang sebenarnya sehingga akan sulit ditolak kebenarannya.

Dalam memilih metode analisis perlu dipertimbangkan:
1.      Kecocokan/kesesuaian metode.
2.      Kehandalan/ketangguhan.
3.      Kepekaan.
4.      Kecepatan/kemudahan.
5.      Kepraktisan / fleksibel.
6.      Keamanan.

Cara menentukan metode analisis yang akan digunakan:
1.      Menetapkan tujuan.
2.      Jenis metode.
3.      Kemungkinan penggunaan metode.
4.      Macam atribut metode yang digunakan.
5.      Pemilihan metode alternative.

Faktor lain yang menjadi pertimbangan dalam memilih metode analisis adalah:
1.      Apakah analisis dilakukan untuk 1 sampel, jarang atau sering dengan contoh yang sama.
2.      Pereaksi apa saja yang harus tersedia.
3.      Berapa lama waktu yang diperlukan.
4.      Apa jenis matriks sampel yang dianalisis.
5.      Berapa tingkat ketelitian yang diharapkan.
6.      Apa ada zat pengganggu.
7.      Apa ada badan khusus atau persyaratan peraturan, batas tindakan, atau batas pelaporan.
8.      Apakah diperlukan prosedur yang mampu menseleksi,mendeteksi, dan identifikasi untuk campuran.
Berapa biaya yang harus dibayar pelanggan.

Jika menggunakan metode yang dikembangkan sendiri harus:
1.      Merupakan kegiatan yang direncanakan
2.      Ditugaskan kepada personil yang memenuhi persyaratan
3.      Dilengkapi dengan sumber daya laboratorium yang memadai.

Apabila menggunakan metode non standar, maka harus :
1.      Mendapat persetujuan pemilik sampel
2.      Memenuhi spesifikasi yang dipersyaratkan oleh pemilik sampel
3.      Sesuai dengan tujuan analisis.

C.    Pertimbangan Dalam Evaluasi Kerja

            setiap manjer memiliki pendekatan yang berbeda dalam segi pengendalian. Manajer yang sering melakukan pengontrolan kepada unit-unit dibawahnya disebut “pengendalian ketat” namun manajer yang hanya mengontrol 1 kali setahun disebut “”pengendalian longgar”. Ketat atau longgarnya suatu pengendalian bukan ditentukan dari tingkat pendelegasian namun dari luas tidaknya pengendalian tersebut.


a.       Pengendalian Ketat
            Pengendalian ketat didasari oleh prinsip manajemen bahwa  manajer akan berkerja lebih efektif dalam dalam hal-hal yang spesifik, misalnya mencangkup tujuan jangka pendek. Disamping itu pengendalian ketat merupakan srana bagi manajer untuk mengevalusi kemampuan dirinya untuk mencapai kondisi sesuai yang diharapkan.


b.      Pengendalian Longgar
              Pengendalian longgar didasarkan pada filosofi manajemen yang diilustrasikan sebagai berikut : sya sewa orang-orang yang berkualitas dan saya meninggalkan mereka sendiri untuk melakukan pekerjaannya. Meningkatnya wewenang pertanggung jawaban dan kekuasaan untuk tingkat bawah dalam organisasi disebut Empowerment.
Efek prilaku dari pengawasan ketat dan longgar
Sistem pengendalian ketat memiliki dua keuntungan dibandingkan pengendalian longgar, yaitu :
1.      Pengendalian ketat mencegah manejer dari memborodan inefisiensi.
2.      Terus memotifasi manajer untuk mencari jalan terbaik dal mencapai target keuntungan.

Kontol ketat dapat menghasilkan beberapa disfungsional efek, yaitu:
1.      Manajer lebih terfokus pada tujuan-tujuan jangka pendek sehingga mengambil keputusan yang berbahaya bagi perusahaan dimasa yang akan datang.
2.      Menekankan profit jangka pendek, sehingga tidak mengambil kesempatan yang dapat memberi keuntungan dimasa yang akan datang
3.      Timbulnya distrosi komunikasi antara manejer unit dan manajer senior, jika anggaran dijadikan satu-satunya tolak ukur.
4.      Pengawasan ketat dapat mendorong manajer memanipulasi data.

Menurut Hopwood, pengendalian ketat dapat menyebabkan :
1.      Tingkat hubungan kerja yang baik
2.      Melemahnya hubungan dengan superior
3.      Melemahnya hubungan dengan rekanan
4.      Manipulasi laporan akutansi

 







BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Berbagai perhitungan Varians
a.       Varians pendapatan
1)      Varians harga penjualan
2)      Varians baruan dan volume
3)      Pemetrasi pasar dan volume industri
b.      Varians beban
1)      Varians tetap
2)      Varians variabel
c.       Rangkuman varians
2.      Faktor-faktor yang dipertimbangkam dalam analisis varians
                  Dalam memilih metode analisis perlu dipertimbangkan:
1.    Kecocokan/kesesuaian metode.
2.    Kehandalan/ketangguhan.
3.    Kepekaan.
4.    Kecepatan/kemudahan.
5.    Kepraktisan / fleksibel.
6.    Keamanan.













BAB IV
DAFTAR PUSTAKA


(2012,  29 Februari). Solartronics Case. StudyMode.com. http://www.studymode.com/essays/Solartronics-Case-1675785.html. diakses pada 06 Desember 2013, 07:28
Anthony, Robert & Vijay Govindarajan. 2009. Management Control System (Sistem Pengendalian Manajemen). Jakarta: Salemba Empat
Khaidir, Mohamad. (2013, 21 Juli), Makalah Analisis Laporan Kinerja Keuangan. http://mohamad-khaidir.blogspot.com/2013/07/makalah-analisis-laporan-kinerja.html. diakses pada 06 Desember 2013, 07:15

Rahmanto, Dedi. (2007, 30 Juni). SOLARTRONIC. http://dedirahmanto.blogspot.com/2007/06/solartronic.html. diakses pada 06 Desember 2013, 07:21